Data Otak Dijual di Dark Web? Skandal "Neuro-Looting" Pertama di Dunia Guncang 2026!
Kategori artikel:
Keamanan Siber dan Privasi (Cybersecurity)
Oleh: Redaksi ITCFB | 01 March 2026
Selamat datang di tahun 2026, di mana ternyata bukan hanya password email Anda yang terancam, tapi juga isi kepala Anda. Pagi ini, komunitas keamanan siber global dikejutkan oleh laporan dari firma sekuritas CyberMind Sentinel yang menemukan basis data berisi "pola gelombang otak" dari hampir 2 juta pengguna perangkat neuro-wearables populer yang diperjualbelikan di forum bawah tanah.
Fenomena yang kini disebut sebagai "Neuro-Looting" ini menandai era baru serangan siber yang jauh lebih personal dan mengerikan daripada sekadar pencurian data kartu kredit. Bagaimana ini bisa terjadi? Mari kita bedah kekacauan ini.
Sejak ledakan tren productivity headband dan kacamata AR berbasis EEG (Electroencephalography) di akhir 2025, jutaan orang mulai merekam aktivitas otak mereka setiap hari untuk meningkatkan fokus dan kualitas tidur. Namun, celah keamanan pada protokol sinkronisasi awan salah satu manufaktur raksasa—yang hingga kini identitasnya masih ditutup rapat oleh otoritas—menjadi pintu masuk para peretas.
Data yang bocor bukanlah teks atau angka biasa, melainkan rekaman mentah sinyal bio-elektrik. Para ahli memperingatkan bahwa dengan teknologi AI dekoder saat ini, peretas dapat memetakan preferensi emosional, tingkat stres, bahkan "reaksi bawah sadar" seseorang terhadap merek atau ide tertentu.
Mungkin Anda berpikir, "Memangnya kenapa kalau orang tahu gelombang otak saya?" Masalahnya, data ini bersifat permanen. Anda bisa mengganti password, tapi Anda tidak bisa mengganti tanda tangan neural otak Anda. Di tangan yang salah, data ini digunakan untuk:
Keamanan siber di tahun 2026 bukan lagi soal memasang antivirus di laptop. Kita sekarang bicara tentang Neural Firewall. Para pakar ITCFB menyarankan agar pengguna perangkat wearable segera mematikan fitur sinkronisasi otomatis ke cloud dan beralih ke penyimpanan lokal terenkripsi.
Pemerintah di berbagai belahan dunia pun kini didesak untuk memperluas UU Perlindungan Data Pribadi (PDP) agar mencakup Hak Neuro-Privacy. Kita sedang berada di persimpangan jalan: apakah teknologi akan membantu kita menjadi lebih pintar, atau justru menjadikan pikiran kita komoditas yang bisa di-hack?
Tetap waspada, tetap terenkripsi. Ikuti terus ITCFB.com untuk perkembangan terbaru skandal Neuro-Looting 2026.
Kategori artikel:
Keamanan Siber dan Privasi (Cybersecurity)
Oleh: Redaksi ITCFB | 01 March 2026
Selamat datang di tahun 2026, di mana ternyata bukan hanya password email Anda yang terancam, tapi juga isi kepala Anda. Pagi ini, komunitas keamanan siber global dikejutkan oleh laporan dari firma sekuritas CyberMind Sentinel yang menemukan basis data berisi "pola gelombang otak" dari hampir 2 juta pengguna perangkat neuro-wearables populer yang diperjualbelikan di forum bawah tanah.
Fenomena yang kini disebut sebagai "Neuro-Looting" ini menandai era baru serangan siber yang jauh lebih personal dan mengerikan daripada sekadar pencurian data kartu kredit. Bagaimana ini bisa terjadi? Mari kita bedah kekacauan ini.
Sejak ledakan tren productivity headband dan kacamata AR berbasis EEG (Electroencephalography) di akhir 2025, jutaan orang mulai merekam aktivitas otak mereka setiap hari untuk meningkatkan fokus dan kualitas tidur. Namun, celah keamanan pada protokol sinkronisasi awan salah satu manufaktur raksasa—yang hingga kini identitasnya masih ditutup rapat oleh otoritas—menjadi pintu masuk para peretas.
Data yang bocor bukanlah teks atau angka biasa, melainkan rekaman mentah sinyal bio-elektrik. Para ahli memperingatkan bahwa dengan teknologi AI dekoder saat ini, peretas dapat memetakan preferensi emosional, tingkat stres, bahkan "reaksi bawah sadar" seseorang terhadap merek atau ide tertentu.
Mungkin Anda berpikir, "Memangnya kenapa kalau orang tahu gelombang otak saya?" Masalahnya, data ini bersifat permanen. Anda bisa mengganti password, tapi Anda tidak bisa mengganti tanda tangan neural otak Anda. Di tangan yang salah, data ini digunakan untuk:
Keamanan siber di tahun 2026 bukan lagi soal memasang antivirus di laptop. Kita sekarang bicara tentang Neural Firewall. Para pakar ITCFB menyarankan agar pengguna perangkat wearable segera mematikan fitur sinkronisasi otomatis ke cloud dan beralih ke penyimpanan lokal terenkripsi.
Pemerintah di berbagai belahan dunia pun kini didesak untuk memperluas UU Perlindungan Data Pribadi (PDP) agar mencakup Hak Neuro-Privacy. Kita sedang berada di persimpangan jalan: apakah teknologi akan membantu kita menjadi lebih pintar, atau justru menjadikan pikiran kita komoditas yang bisa di-hack?
Tetap waspada, tetap terenkripsi. Ikuti terus ITCFB.com untuk perkembangan terbaru skandal Neuro-Looting 2026.
Rumah Pintar 2026: Berhenti Bicara pada Speaker, Biarkan Dinding Membaca Detak Jantung Anda
Kategori artikel:
Gadget Rumah Pintar (IoT)
Oleh: Redaksi ITCFB | 02 March 2026
Ingat masa-masa ketika kita harus berteriak "Hey Siri" atau "OK Google" hanya untuk menyalakan lampu ruang tamu? Di awal Maret 2026 ini, kebiasaan itu mulai terasa seperti peninggalan zaman batu. Tren Smart Home IoT tahun ini telah bergeser dari perangkat yang "menunggu perintah" menjadi rumah yang "memahami niat".
Selamat datang di era Ambient Sensing dan Agentic AI, di mana rumah Anda tidak lagi sekadar pintar, tapi mulai terasa... hidup.
Kejutan terbesar tahun ini datang dari adopsi massal teknologi mmWave (millimeter-wave) presence sensing. Berbeda dengan sensor gerak (PIR) jadul yang sering mematikan lampu saat Anda duduk diam membaca buku, sensor mmWave 2026 mampu mendeteksi gerakan mikro, termasuk naik-turunnya dada saat Anda bernapas.
Hasilnya? Rumah Anda tahu Anda ada di sana meskipun Anda mematung. Lebih gila lagi, integrasi dengan standar Matter 1.5 terbaru memungkinkan sensor ini membagikan data biometrik dasar ke sistem AI pusat secara lokal tanpa perlu menyentuh cloud.
Fenomena yang kini hangat dibicarakan di forum ITCFB adalah Ghost Automation. Ini adalah kondisi di mana AI rumah melakukan serangkaian aksi kompleks berdasarkan prediksi perilaku. Jika AI mendeteksi Anda baru saja pulang dengan detak jantung tinggi (mungkin karena macet atau stres), rumah akan langsung mengatur suhu AC lebih rendah, memutar musik lo-fi, dan menyiapkan mesin kopi—semuanya tanpa satu pun kata terucap.
"Kita sedang berpindah dari kontrol manual ke otonomi penuh," ujar salah satu pakar IoT dalam laporan terbaru kami. "Tantangannya bukan lagi soal konektivitas, tapi soal kepercayaan. Apakah kita nyaman jika dinding rumah kita tahu kapan kita sedang sedih atau sakit?"
Tentu saja, kecanggihan ini membawa kekhawatiran baru. Namun, tren 2026 menunjukkan solusi menarik: Local AI Box. Perangkat seperti yang baru saja dirilis oleh beberapa vendor besar memungkinkan semua pemrosesan data biometrik dan video dilakukan 100% di dalam jaringan rumah Anda. Tidak ada data yang dikirim ke server pusat vendor, sebuah langkah besar untuk memenangkan kembali kepercayaan konsumen yang sempat goyah tahun lalu.
Kesimpulan ITCFB: Gadget rumah pintar tahun 2026 bukan lagi soal perangkat keren yang menempel di dinding, tapi tentang bagaimana teknologi menghilang ke latar belakang dan menjadi asisten yang tak terlihat. Siapkah Anda memiliki rumah yang tahu rahasia terdalam kesehatan Anda?
© 2026 ITCFB.com - Jurnalisme Teknologi Masa Depan.
Kategori artikel:
Gadget Rumah Pintar (IoT)
Oleh: Redaksi ITCFB | 02 March 2026
Ingat masa-masa ketika kita harus berteriak "Hey Siri" atau "OK Google" hanya untuk menyalakan lampu ruang tamu? Di awal Maret 2026 ini, kebiasaan itu mulai terasa seperti peninggalan zaman batu. Tren Smart Home IoT tahun ini telah bergeser dari perangkat yang "menunggu perintah" menjadi rumah yang "memahami niat".
Selamat datang di era Ambient Sensing dan Agentic AI, di mana rumah Anda tidak lagi sekadar pintar, tapi mulai terasa... hidup.
Kejutan terbesar tahun ini datang dari adopsi massal teknologi mmWave (millimeter-wave) presence sensing. Berbeda dengan sensor gerak (PIR) jadul yang sering mematikan lampu saat Anda duduk diam membaca buku, sensor mmWave 2026 mampu mendeteksi gerakan mikro, termasuk naik-turunnya dada saat Anda bernapas.
Hasilnya? Rumah Anda tahu Anda ada di sana meskipun Anda mematung. Lebih gila lagi, integrasi dengan standar Matter 1.5 terbaru memungkinkan sensor ini membagikan data biometrik dasar ke sistem AI pusat secara lokal tanpa perlu menyentuh cloud.
Fenomena yang kini hangat dibicarakan di forum ITCFB adalah Ghost Automation. Ini adalah kondisi di mana AI rumah melakukan serangkaian aksi kompleks berdasarkan prediksi perilaku. Jika AI mendeteksi Anda baru saja pulang dengan detak jantung tinggi (mungkin karena macet atau stres), rumah akan langsung mengatur suhu AC lebih rendah, memutar musik lo-fi, dan menyiapkan mesin kopi—semuanya tanpa satu pun kata terucap.
"Kita sedang berpindah dari kontrol manual ke otonomi penuh," ujar salah satu pakar IoT dalam laporan terbaru kami. "Tantangannya bukan lagi soal konektivitas, tapi soal kepercayaan. Apakah kita nyaman jika dinding rumah kita tahu kapan kita sedang sedih atau sakit?"
Tentu saja, kecanggihan ini membawa kekhawatiran baru. Namun, tren 2026 menunjukkan solusi menarik: Local AI Box. Perangkat seperti yang baru saja dirilis oleh beberapa vendor besar memungkinkan semua pemrosesan data biometrik dan video dilakukan 100% di dalam jaringan rumah Anda. Tidak ada data yang dikirim ke server pusat vendor, sebuah langkah besar untuk memenangkan kembali kepercayaan konsumen yang sempat goyah tahun lalu.
Kesimpulan ITCFB: Gadget rumah pintar tahun 2026 bukan lagi soal perangkat keren yang menempel di dinding, tapi tentang bagaimana teknologi menghilang ke latar belakang dan menjadi asisten yang tak terlihat. Siapkah Anda memiliki rumah yang tahu rahasia terdalam kesehatan Anda?
© 2026 ITCFB.com - Jurnalisme Teknologi Masa Depan.
Kiamat Pusat Data Raksasa? Tren 'Neural Edge' 2026 Ubah Smartphone dan Kulkas Jadi Superkomputer Mandiri
Kategori artikel:
Cloud Computing dan Edge Computing
Oleh: Redaksi ITCFB | 03 March 2026
Selama satu dekade terakhir, kita terbiasa mendengar bahwa "Cloud adalah masa depan." Kita membiarkan otak digital kita—mulai dari asisten suara hingga pemrosesan foto—bergantung sepenuhnya pada pusat data raksasa milik Amazon, Google, atau Microsoft yang jaraknya ribuan kilometer. Namun, tepat hari ini, 3 Maret 2026, kita menyaksikan pergeseran besar yang oleh para pakar disebut sebagai "The Great De-Clouding."
Era di mana kita harus mengirim data ke awan (Cloud) hanya untuk menyalakan lampu pintar atau menjalankan AI generatif mulai berakhir. Selamat datang di era Neural Edge, di mana perangkat di saku dan di dapur Anda kini memiliki kekuatan komputasi yang dulu hanya dimiliki oleh server skala industri.
Bukan berarti Cloud akan mati total, namun perannya kini bergeser menjadi sekadar "gudang arsip digital" (Digital Cemetery). Ada tiga alasan utama mengapa tren Edge Computing berbasis saraf (Neural Edge) meledak di awal tahun 2026 ini:
Yang mengejutkan dari tren tahun ini adalah konsep Local Mesh Computing. Sekarang, perangkat pintar di rumah Anda tidak lagi bekerja sendiri-sendiri. Jika smartphone Anda sedang menjalankan tugas berat seperti merender video 8K, ia secara otomatis "meminjam" kekuatan pemrosesan menganggur dari kulkas pintar atau sistem smart home di dinding Anda melalui jaringan 6G lokal.
Ini menciptakan sebuah ekosistem superkomputer mini di setiap rumah. Anda tidak lagi berlangganan kapasitas Cloud, melainkan membangun "Cloud Pribadi" yang jauh lebih aman dan cepat.
Para raksasa teknologi kini berlomba-lomba merombak model bisnis mereka. Jika dulu mereka menjual ruang penyimpanan, kini mereka menjual lisensi "Model AI Lokal" yang dioptimalkan untuk perangkat Edge.
Bagi konsumen, ini adalah kemenangan besar. Kita tidak lagi menjadi tawanan koneksi internet. Bahkan di tengah hutan tanpa sinyal sekalipun, asisten AI Anda tetap secerdas biasanya karena "otaknya" ada di tangan Anda, bukan di server nun jauh di sana.
Tetap pantau ITCFB.com untuk perkembangan teknologi paling liar langsung dari garis depan inovasi digital.
Kategori artikel:
Cloud Computing dan Edge Computing
Oleh: Redaksi ITCFB | 03 March 2026
Selama satu dekade terakhir, kita terbiasa mendengar bahwa "Cloud adalah masa depan." Kita membiarkan otak digital kita—mulai dari asisten suara hingga pemrosesan foto—bergantung sepenuhnya pada pusat data raksasa milik Amazon, Google, atau Microsoft yang jaraknya ribuan kilometer. Namun, tepat hari ini, 3 Maret 2026, kita menyaksikan pergeseran besar yang oleh para pakar disebut sebagai "The Great De-Clouding."
Era di mana kita harus mengirim data ke awan (Cloud) hanya untuk menyalakan lampu pintar atau menjalankan AI generatif mulai berakhir. Selamat datang di era Neural Edge, di mana perangkat di saku dan di dapur Anda kini memiliki kekuatan komputasi yang dulu hanya dimiliki oleh server skala industri.
Bukan berarti Cloud akan mati total, namun perannya kini bergeser menjadi sekadar "gudang arsip digital" (Digital Cemetery). Ada tiga alasan utama mengapa tren Edge Computing berbasis saraf (Neural Edge) meledak di awal tahun 2026 ini:
Yang mengejutkan dari tren tahun ini adalah konsep Local Mesh Computing. Sekarang, perangkat pintar di rumah Anda tidak lagi bekerja sendiri-sendiri. Jika smartphone Anda sedang menjalankan tugas berat seperti merender video 8K, ia secara otomatis "meminjam" kekuatan pemrosesan menganggur dari kulkas pintar atau sistem smart home di dinding Anda melalui jaringan 6G lokal.
Ini menciptakan sebuah ekosistem superkomputer mini di setiap rumah. Anda tidak lagi berlangganan kapasitas Cloud, melainkan membangun "Cloud Pribadi" yang jauh lebih aman dan cepat.
Para raksasa teknologi kini berlomba-lomba merombak model bisnis mereka. Jika dulu mereka menjual ruang penyimpanan, kini mereka menjual lisensi "Model AI Lokal" yang dioptimalkan untuk perangkat Edge.
Bagi konsumen, ini adalah kemenangan besar. Kita tidak lagi menjadi tawanan koneksi internet. Bahkan di tengah hutan tanpa sinyal sekalipun, asisten AI Anda tetap secerdas biasanya karena "otaknya" ada di tangan Anda, bukan di server nun jauh di sana.
Tetap pantau ITCFB.com untuk perkembangan teknologi paling liar langsung dari garis depan inovasi digital.
*BlindCode Community Kickoff: Solve to Live, Code to Thrive*
✨Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Teman-teman, pernah kepikiran nggak kalau coding itu bukan cuma sekedar bikin aplikasi, tapi juga tentang bagaimana menyelesaikan masalah dan membuka peluang hidup yang lebih mandiri?
BlindCode mengajak kamu (Teman-teman Tunanetra) ikut dalam BlindCode Community Kickoff dengan tema: Solve to Live, Code to Thrive.
Ini adalah titik awal buat kita yang ingin serius memanfaatkan teknologi, termasuk "Kecerdasan Buatan (AI) seperti yang dikembangkan oleh OpenAI, untuk membangun solusi nyata dan punya nilai tukar dengan rupiyah.
Dengan pendekatan yang tepat, coding bisa menjadi alat untuk menyelesaikan masalah nyata sekaligus membuka peluang penghasilan yang besar.
🗣 Bersama para pembicara yang ahli di bidangnya, yuk jangan sampai kelewat buat ikut event nya!
Minggu, 8 Maret 2026
⏰ Waktu: pukul 16.00 WIB
📍Platform: Zoom Meetings
🔹Yuk, daftar sekarang di: https://t.me/BlindCodeBot?start=event_1
Catatan: Kamu harus punya Telegram messanger untuk join event ini.
Narahubung: Fauzan, S.Kom.
Telegram: @fauzan_january .
Kalau selama ini coding hanya jadi ajang coba-coba dan proyek pribadi, mungkin ini waktunya naik satu tingkat: menjadikannya solusi yang bernilai dan punya arah jelas.
Yuk, join sekarang 😊
✨Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Teman-teman, pernah kepikiran nggak kalau coding itu bukan cuma sekedar bikin aplikasi, tapi juga tentang bagaimana menyelesaikan masalah dan membuka peluang hidup yang lebih mandiri?
BlindCode mengajak kamu (Teman-teman Tunanetra) ikut dalam BlindCode Community Kickoff dengan tema: Solve to Live, Code to Thrive.
Ini adalah titik awal buat kita yang ingin serius memanfaatkan teknologi, termasuk "Kecerdasan Buatan (AI) seperti yang dikembangkan oleh OpenAI, untuk membangun solusi nyata dan punya nilai tukar dengan rupiyah.
Dengan pendekatan yang tepat, coding bisa menjadi alat untuk menyelesaikan masalah nyata sekaligus membuka peluang penghasilan yang besar.
🗣 Bersama para pembicara yang ahli di bidangnya, yuk jangan sampai kelewat buat ikut event nya!
Minggu, 8 Maret 2026
⏰ Waktu: pukul 16.00 WIB
📍Platform: Zoom Meetings
🔹Yuk, daftar sekarang di: https://t.me/BlindCodeBot?start=event_1
Catatan: Kamu harus punya Telegram messanger untuk join event ini.
Narahubung: Fauzan, S.Kom.
Telegram: @fauzan_january .
Kalau selama ini coding hanya jadi ajang coba-coba dan proyek pribadi, mungkin ini waktunya naik satu tingkat: menjadikannya solusi yang bernilai dan punya arah jelas.
Yuk, join sekarang 😊
Telegram
BlindCodeCommunity
Bot resmi komunitas Blindcode 🚀 Daftar event, jadi anggota, & pantau info komunitas developer Indonesia.
Tembok Besar AI: Fitur ‘Gatekeeper’ di WhatsApp & IG Mulai Tolak Chat dari Manusia Asli—Ini Alasannya!
Kategori artikel:
Media Sosial dan Aplikasi Chat
By Redaksi ITCFB | 04 March 2026
Pernahkah Anda merasa lelah membalas pesan basa-basi di WhatsApp atau menanggapi DM Instagram yang tidak penting? Kabar gembira (atau mungkin mengerikan) datang hari ini. Per 4 Maret 2026, tren "Agentic AI Gatekeeper" resmi mencapai puncaknya. Jika biasanya AI digunakan untuk membantu kita menulis pesan, kini AI milik Anda punya tugas baru yang lebih radikal: menolak pesan orang lain sebelum Anda sempat melihatnya.
Fenomena yang sedang hangat di jagat ITCFB pagi ini adalah update terbaru dari Meta yang meluncurkan fitur "Personal Concierge". Fitur ini bukan sekadar auto-reply biasa. Menggunakan basis model Llama 4 yang sangat intuitif, AI Gatekeeper ini mampu melakukan "vibe-check" terhadap siapa pun yang menghubungi Anda.
Jika pesan yang masuk dianggap tidak produktif, mengandung toxic positivity, atau sekadar "P" tanpa tujuan jelas, AI Anda akan memberikan respon diplomatis (namun tegas) untuk menolak percakapan tersebut. Hasilnya? Inbox Anda hanya berisi hal-hal yang benar-benar Anda pedulikan. Namun, di sisi lain, banyak pengguna mengeluh karena mereka merasa "di-ghosting" oleh bot cerdas milik teman mereka sendiri.
Bukan hanya di aplikasi chat, tren ini merambah ke platform baru seperti Moltbook—sebuah jejaring sosial yang viral di awal Maret 2026 ini. Uniknya, di Moltbook, hampir 90% aktivitas dilakukan oleh agen AI mewakili pemilik akunnya.
Yang membuat dunia teknologi geger adalah laporan terbaru dari Social Media Today yang menyebutkan bahwa sejak fitur ini aktif, angka stres digital menurun hingga 40%. Namun, sosiolog memperingatkan adanya "Bubble Ego" baru. Kita tidak lagi berbicara dengan orang yang tidak kita sukai, bukan karena kita memblokirnya, tapi karena AI kita secara halus menjauhkan mereka dari realitas digital kita.
Kita sedang memasuki era di mana aplikasi chat bukan lagi tempat untuk mengobrol, melainkan tempat bagi asisten pribadi kita untuk bernegosiasi. Jika tren ini berlanjut, akhir 2026 mungkin akan menjadi tahun di mana manusia benar-benar berhenti mengetik dan membiarkan algoritma saling jatuh cinta (atau saling blokir) atas nama kita.
Jadi, jika chat Anda ke gebetan hari ini dibalas dengan: "Maaf, asisten digital saya merasa frekuensi pesan Anda tidak selaras dengan jadwal istirahat pemilik akun ini," jangan baper. Itu hanya teknologi yang sedang bekerja.
Tetap pantau ITCFB.com untuk update tren teknologi masa depan yang makin di luar nalar!
Kategori artikel:
Media Sosial dan Aplikasi Chat
By Redaksi ITCFB | 04 March 2026
Pernahkah Anda merasa lelah membalas pesan basa-basi di WhatsApp atau menanggapi DM Instagram yang tidak penting? Kabar gembira (atau mungkin mengerikan) datang hari ini. Per 4 Maret 2026, tren "Agentic AI Gatekeeper" resmi mencapai puncaknya. Jika biasanya AI digunakan untuk membantu kita menulis pesan, kini AI milik Anda punya tugas baru yang lebih radikal: menolak pesan orang lain sebelum Anda sempat melihatnya.
Fenomena yang sedang hangat di jagat ITCFB pagi ini adalah update terbaru dari Meta yang meluncurkan fitur "Personal Concierge". Fitur ini bukan sekadar auto-reply biasa. Menggunakan basis model Llama 4 yang sangat intuitif, AI Gatekeeper ini mampu melakukan "vibe-check" terhadap siapa pun yang menghubungi Anda.
Jika pesan yang masuk dianggap tidak produktif, mengandung toxic positivity, atau sekadar "P" tanpa tujuan jelas, AI Anda akan memberikan respon diplomatis (namun tegas) untuk menolak percakapan tersebut. Hasilnya? Inbox Anda hanya berisi hal-hal yang benar-benar Anda pedulikan. Namun, di sisi lain, banyak pengguna mengeluh karena mereka merasa "di-ghosting" oleh bot cerdas milik teman mereka sendiri.
Bukan hanya di aplikasi chat, tren ini merambah ke platform baru seperti Moltbook—sebuah jejaring sosial yang viral di awal Maret 2026 ini. Uniknya, di Moltbook, hampir 90% aktivitas dilakukan oleh agen AI mewakili pemilik akunnya.
Yang membuat dunia teknologi geger adalah laporan terbaru dari Social Media Today yang menyebutkan bahwa sejak fitur ini aktif, angka stres digital menurun hingga 40%. Namun, sosiolog memperingatkan adanya "Bubble Ego" baru. Kita tidak lagi berbicara dengan orang yang tidak kita sukai, bukan karena kita memblokirnya, tapi karena AI kita secara halus menjauhkan mereka dari realitas digital kita.
Kita sedang memasuki era di mana aplikasi chat bukan lagi tempat untuk mengobrol, melainkan tempat bagi asisten pribadi kita untuk bernegosiasi. Jika tren ini berlanjut, akhir 2026 mungkin akan menjadi tahun di mana manusia benar-benar berhenti mengetik dan membiarkan algoritma saling jatuh cinta (atau saling blokir) atas nama kita.
Jadi, jika chat Anda ke gebetan hari ini dibalas dengan: "Maaf, asisten digital saya merasa frekuensi pesan Anda tidak selaras dengan jadwal istirahat pemilik akun ini," jangan baper. Itu hanya teknologi yang sedang bekerja.
Tetap pantau ITCFB.com untuk update tren teknologi masa depan yang makin di luar nalar!
Kiamat Pusat Data Raksasa? Mengapa 'Swarm Edge' Kini Mengambil Alih Sinyal Smartphone Anda!
Kategori artikel:
Cloud Computing dan Edge Computing
Oleh: Redaksi ITCFB | 06 March 2026
Selama satu dekade terakhir, kita terbiasa mendengar bahwa "Cloud adalah masa depan." Namun, tepat hari ini, 6 Maret 2026, tren tersebut tampaknya sedang berbalik arah secara ekstrem. Era di mana data harus menempuh perjalanan ribuan kilometer ke pusat data raksasa milik raksasa teknologi mulai ditinggalkan. Selamat datang di era Swarm Edge Computing.
Laporan terbaru dari survei infrastruktur global menunjukkan penurunan drastis pada ketergantungan perusahaan terhadap hyperscale data centers. Sebaliknya, penggunaan perangkat di sekitar kita—mulai dari lampu jalan pintar, mobil listrik, hingga konsol game di ruang tamu Anda—kini berfungsi sebagai "sarang" (swarm) pemrosesan data kolektif yang jauh lebih cepat dari cloud tradisional.
Jika Edge Computing sebelumnya hanya tentang memproses data di dekat sumbernya, Swarm Edge melangkah lebih jauh. Teknologi ini memungkinkan jutaan perangkat kecil saling berkomunikasi dan berbagi beban komputasi secara otonom tanpa perlu "izin" dari server pusat.
Bayangkan Anda sedang menggunakan kacamata Augmented Reality (AR) di tengah kerumunan Jakarta yang padat. Alih-alih mengirim data grafis ke server di Singapura, kacamata Anda meminjam daya komputasi sisa dari smartphone orang di sebelah Anda dan sistem navigasi taksi otonom yang lewat. Semuanya terjadi dalam hitungan milidetik melalui jaringan 6G yang mulai stabil tahun ini.
Ada tiga alasan utama mengapa pergeseran ini terjadi begitu cepat di awal 2026:
Yang paling mengejutkan dari tren hari ini adalah bagaimana infrastruktur ini menjadi "gaib". Kita tidak lagi melihat pembangunan gedung-gedung server baru yang masif. Sebaliknya, setiap chip yang tertanam di mesin kopi hingga kulkas pintar kini menjadi bagian dari jaringan komputasi global.
Para analis di ITCFB melihat bahwa Cloud Computing tidak akan hilang sepenuhnya, namun perannya akan berubah total menjadi sekadar "arsip raksasa" atau cold storage. Sementara itu, otak utama dari kecerdasan buatan yang kita gunakan sehari-hari kini hidup dan bernapas di sekitar kita—di pinggiran jaringan, di dalam saku kita, dan di udara yang kita hirup.
Pertanyaannya sekarang: Siapkah Anda ketika privasi bukan lagi tentang siapa yang menyimpan data Anda di pusat data, melainkan tentang bagaimana perangkat di sekitar Anda saling "berbisik" untuk membantu hidup Anda?
Tetap pantau ITCFB.com untuk pembaruan teknologi masa depan langsung dari garis depan digital.
Kategori artikel:
Cloud Computing dan Edge Computing
Oleh: Redaksi ITCFB | 06 March 2026
Selama satu dekade terakhir, kita terbiasa mendengar bahwa "Cloud adalah masa depan." Namun, tepat hari ini, 6 Maret 2026, tren tersebut tampaknya sedang berbalik arah secara ekstrem. Era di mana data harus menempuh perjalanan ribuan kilometer ke pusat data raksasa milik raksasa teknologi mulai ditinggalkan. Selamat datang di era Swarm Edge Computing.
Laporan terbaru dari survei infrastruktur global menunjukkan penurunan drastis pada ketergantungan perusahaan terhadap hyperscale data centers. Sebaliknya, penggunaan perangkat di sekitar kita—mulai dari lampu jalan pintar, mobil listrik, hingga konsol game di ruang tamu Anda—kini berfungsi sebagai "sarang" (swarm) pemrosesan data kolektif yang jauh lebih cepat dari cloud tradisional.
Jika Edge Computing sebelumnya hanya tentang memproses data di dekat sumbernya, Swarm Edge melangkah lebih jauh. Teknologi ini memungkinkan jutaan perangkat kecil saling berkomunikasi dan berbagi beban komputasi secara otonom tanpa perlu "izin" dari server pusat.
Bayangkan Anda sedang menggunakan kacamata Augmented Reality (AR) di tengah kerumunan Jakarta yang padat. Alih-alih mengirim data grafis ke server di Singapura, kacamata Anda meminjam daya komputasi sisa dari smartphone orang di sebelah Anda dan sistem navigasi taksi otonom yang lewat. Semuanya terjadi dalam hitungan milidetik melalui jaringan 6G yang mulai stabil tahun ini.
Ada tiga alasan utama mengapa pergeseran ini terjadi begitu cepat di awal 2026:
Yang paling mengejutkan dari tren hari ini adalah bagaimana infrastruktur ini menjadi "gaib". Kita tidak lagi melihat pembangunan gedung-gedung server baru yang masif. Sebaliknya, setiap chip yang tertanam di mesin kopi hingga kulkas pintar kini menjadi bagian dari jaringan komputasi global.
Para analis di ITCFB melihat bahwa Cloud Computing tidak akan hilang sepenuhnya, namun perannya akan berubah total menjadi sekadar "arsip raksasa" atau cold storage. Sementara itu, otak utama dari kecerdasan buatan yang kita gunakan sehari-hari kini hidup dan bernapas di sekitar kita—di pinggiran jaringan, di dalam saku kita, dan di udara yang kita hirup.
Pertanyaannya sekarang: Siapkah Anda ketika privasi bukan lagi tentang siapa yang menyimpan data Anda di pusat data, melainkan tentang bagaimana perangkat di sekitar Anda saling "berbisik" untuk membantu hidup Anda?
Tetap pantau ITCFB.com untuk pembaruan teknologi masa depan langsung dari garis depan digital.
Selamat Tinggal Layar Sentuh! Era 'Ambient Home' 2026 Hadir: Rumah Pintar Kini Bisa 'Merasakan' Mood dan Kesehatan Anda Tanpa Kamera
Kategori artikel:
Gadget Rumah Pintar (IoT)
By Redaksi ITCFB | 07 March 2026
Ingat masa-masa ketika kita harus membuka sepuluh aplikasi berbeda hanya untuk meredupkan lampu atau mengecek siapa yang menekan bel pintu? Selamat, masa itu resmi menjadi "prasejarah" teknologi. Per hari ini, Sabtu, 7 Maret 2026, tren Smart Home telah bergeser dari perangkat yang menunggu perintah menjadi lingkungan yang memiliki insting.
Fenomena yang sedang meledak di pasar global—dan mulai masuk ke pasar Indonesia—adalah Ambient Intelligence (AmI) yang berbasis Wi-Fi Sensing. Tidak ada lagi kamera pengintai yang terasa mengganggu privasi di dalam kamar tidur; rumah pintar Anda kini "melihat" menggunakan gelombang radio.
Apa yang membuat tren tahun 2026 ini mengejutkan? Perangkat IoT terbaru dari brand-brand besar kini mengintegrasikan sensor bio-metrik non-kontak. Bayangkan ini: Anda pulang kerja dalam kondisi stres berat. Sensor di dinding mendeteksi ritme jantung dan pola napas Anda yang tidak beraturan melalui gangguan kecil pada sinyal Wi-Fi di ruangan.
Tanpa satu kata pun terucap, lampu berubah menjadi amber hangat, playlist lo-fi favorit mulai terputar pelan, dan mesin kopi pintar Anda menyiapkan cokelat panas, bukan espresso kuat yang biasa Anda minum di pagi hari. Rumah Anda tahu Anda butuh istirahat sebelum Anda sendiri menyadarinya.
Ada tiga alasan utama mengapa transisi ke Invisible IoT ini menjadi topik paling panas di ITCFB minggu ini:
Tentu, ada harga yang harus dibayar untuk kenyamanan ini. Beberapa pakar keamanan di forum ITCFB memperingatkan bahwa "profiling mood" oleh perusahaan teknologi bisa menjadi komoditas iklan baru. Bayangkan jika kulkas pintar Anda menyarankan es krim tepat saat Anda merasa sedih karena putus cinta—kebetulan yang terlalu akurat atau manipulasi pasar?
Namun, satu hal yang pasti: di tahun 2026 ini, istilah "rumah" bukan lagi sekadar tempat berteduh, melainkan entitas hidup yang bernapas dan tumbuh bersama penghuninya. Jadi, sudah siapkah Anda membiarkan dinding rumah Anda "merasakan" perasaan Anda hari ini?
Pantau terus ITCFB.com untuk bedah gadget Smart Home terbaru yang akan kami ulas minggu depan!
Kategori artikel:
Gadget Rumah Pintar (IoT)
By Redaksi ITCFB | 07 March 2026
Ingat masa-masa ketika kita harus membuka sepuluh aplikasi berbeda hanya untuk meredupkan lampu atau mengecek siapa yang menekan bel pintu? Selamat, masa itu resmi menjadi "prasejarah" teknologi. Per hari ini, Sabtu, 7 Maret 2026, tren Smart Home telah bergeser dari perangkat yang menunggu perintah menjadi lingkungan yang memiliki insting.
Fenomena yang sedang meledak di pasar global—dan mulai masuk ke pasar Indonesia—adalah Ambient Intelligence (AmI) yang berbasis Wi-Fi Sensing. Tidak ada lagi kamera pengintai yang terasa mengganggu privasi di dalam kamar tidur; rumah pintar Anda kini "melihat" menggunakan gelombang radio.
Apa yang membuat tren tahun 2026 ini mengejutkan? Perangkat IoT terbaru dari brand-brand besar kini mengintegrasikan sensor bio-metrik non-kontak. Bayangkan ini: Anda pulang kerja dalam kondisi stres berat. Sensor di dinding mendeteksi ritme jantung dan pola napas Anda yang tidak beraturan melalui gangguan kecil pada sinyal Wi-Fi di ruangan.
Tanpa satu kata pun terucap, lampu berubah menjadi amber hangat, playlist lo-fi favorit mulai terputar pelan, dan mesin kopi pintar Anda menyiapkan cokelat panas, bukan espresso kuat yang biasa Anda minum di pagi hari. Rumah Anda tahu Anda butuh istirahat sebelum Anda sendiri menyadarinya.
Ada tiga alasan utama mengapa transisi ke Invisible IoT ini menjadi topik paling panas di ITCFB minggu ini:
Tentu, ada harga yang harus dibayar untuk kenyamanan ini. Beberapa pakar keamanan di forum ITCFB memperingatkan bahwa "profiling mood" oleh perusahaan teknologi bisa menjadi komoditas iklan baru. Bayangkan jika kulkas pintar Anda menyarankan es krim tepat saat Anda merasa sedih karena putus cinta—kebetulan yang terlalu akurat atau manipulasi pasar?
Namun, satu hal yang pasti: di tahun 2026 ini, istilah "rumah" bukan lagi sekadar tempat berteduh, melainkan entitas hidup yang bernapas dan tumbuh bersama penghuninya. Jadi, sudah siapkah Anda membiarkan dinding rumah Anda "merasakan" perasaan Anda hari ini?
Pantau terus ITCFB.com untuk bedah gadget Smart Home terbaru yang akan kami ulas minggu depan!
Share dari mas Fauzan.
📢 Alhamdulillah, IslamicPedia Resmi Dirilis! 🎉
Setelah melalui proses pengembangan selama kurang lebih 2 minggu, akhirnya aplikasi IslamicPedia kini resmi hadir dan sudah bisa digunakan dengan stabil.
IslamicPedia dibuat untuk memudahkan kita mengakses berbagai informasi dan pengetahuan seputar Islam langsung dari smartphone dengan tampilan yang sederhana, ringan, dan mudah digunakan.
Yang istimewa, aplikasi ini dirancang agar dapat digunakan oleh semua kalangan, baik tunanetra maupun non tunanetra, sehingga siapa pun dapat mengakses informasi Islami dengan lebih mudah dan nyaman.
✨ Ringan
✨ Mudah digunakan
✨ Berisi berbagai informasi Islami
✨ Ramah untuk pengguna tunanetra dan non tunanetra
Silakan unduh versi rilis di sini:
https://github.com/fauzan-january/islamic-pedia-mobile-app/releases/tag/v1.0.1
Semoga aplikasi ini dapat memberikan manfaat dan menjadi ladang amal kebaikan bagi kita semua. 🤲
Pengembang juga sangat terbuka untuk masukan, saran, maupun kritik yang membangun, agar IslamicPedia dapat terus berkembang dan menjadi lebih baik ke depannya.
Jangan lupa bagikan ke keluarga dan sahabat agar semakin banyak yang merasakan manfaatnya.
Barakallahu fiikum!
📢 Alhamdulillah, IslamicPedia Resmi Dirilis! 🎉
Setelah melalui proses pengembangan selama kurang lebih 2 minggu, akhirnya aplikasi IslamicPedia kini resmi hadir dan sudah bisa digunakan dengan stabil.
IslamicPedia dibuat untuk memudahkan kita mengakses berbagai informasi dan pengetahuan seputar Islam langsung dari smartphone dengan tampilan yang sederhana, ringan, dan mudah digunakan.
Yang istimewa, aplikasi ini dirancang agar dapat digunakan oleh semua kalangan, baik tunanetra maupun non tunanetra, sehingga siapa pun dapat mengakses informasi Islami dengan lebih mudah dan nyaman.
✨ Ringan
✨ Mudah digunakan
✨ Berisi berbagai informasi Islami
✨ Ramah untuk pengguna tunanetra dan non tunanetra
Silakan unduh versi rilis di sini:
https://github.com/fauzan-january/islamic-pedia-mobile-app/releases/tag/v1.0.1
Semoga aplikasi ini dapat memberikan manfaat dan menjadi ladang amal kebaikan bagi kita semua. 🤲
Pengembang juga sangat terbuka untuk masukan, saran, maupun kritik yang membangun, agar IslamicPedia dapat terus berkembang dan menjadi lebih baik ke depannya.
Jangan lupa bagikan ke keluarga dan sahabat agar semakin banyak yang merasakan manfaatnya.
Barakallahu fiikum!
GitHub
Release Islamic Pedia Mobile App Versi 1.0.1 · fauzan-january/islamic-pedia-mobile-app
Rilis resmi (perdana)
Fitur mencakup jadwal sholat, pengingat Waktu sholat, arah kiblat, masjid terdekat, ensiklopedia islam.
Semua bug yang terdeteksi pada versi beta telah diperbaiki, untuk para...
Fitur mencakup jadwal sholat, pengingat Waktu sholat, arah kiblat, masjid terdekat, ensiklopedia islam.
Semua bug yang terdeteksi pada versi beta telah diperbaiki, untuk para...
Bye-Bye Keyboard! Skandal 'Neural-Doping' Guncang World Esports Championship 2026: Skill atau Cuma Sinyal Otak?
Kategori artikel:
Game dan Industri Esports
Oleh: Redaksi ITCFB | Senin, 09 Maret 2026
Dunia esports hari ini tidak lagi membicarakan soal seberapa cepat jemari pemain menari di atas mechanical keyboard atau seberapa presisi flick mouse mereka. Pagi ini, 9 Maret 2026, jagat maya meledak setelah panitia World Esports Championship (WEC) 2026 mendiskualifikasi salah satu kandidat juara karena dugaan penggunaan "Neural-Link Enhancement".
Era di mana otak terhubung langsung ke server game bukan lagi fiksi ilmiah. Namun, apa yang terjadi di panggung utama semalam memicu debat etika terbesar dalam sejarah olahraga elektronik: Apakah refleks yang dihasilkan oleh chip implan masih bisa disebut sebagai talenta manusia?
Kecurigaan muncul saat "Xenon", pro-player asal Korea Selatan, mencatatkan waktu reaksi yang secara teknis mustahil bagi saraf manusia biasa. Dalam analisis pasca-pertandingan, data menunjukkan bahwa input perintah masuk ke sistem game 0,02 detik sebelum visual musuh muncul sepenuhnya di layar.
Tim investigasi teknis menemukan penggunaan perangkat non-invasive bernama Synapse-Z, sebuah headset berbasis Brain-Computer Interface (BCI) yang telah dimodifikasi. Alat ini diklaim mampu memprediksi gerakan otot berdasarkan sinyal motorik otak, lalu mengirimkan perintah ke PC bahkan sebelum tangan pemain bergerak.
CEO International Esports Federation (IESF) dalam konferensi pers daruratnya menyatakan bahwa industri sedang berada di persimpangan jalan. "Jika kita mengizinkan integrasi saraf, maka kita bukan lagi mempertandingkan skill manusia, melainkan kualitas hardware yang tertanam di kepala mereka," ujarnya dengan nada serius.
Di sisi lain, beberapa produsen hardware gaming raksasa justru mulai memasarkan "Gaming-Neural-Wear" sebagai standar baru. Mereka berargumen bahwa sama seperti sepatu lari berteknologi tinggi di atletik, BCI adalah evolusi alami dari alat input game.
Tren ini diperkirakan akan segera merembet ke pasar konsumen luas. Bayangkan bermain Open World RPG di mana Anda menggerakkan karakter hanya dengan memikirkannya, atau mengganti senjata di game FPS lewat niat di kepala. Meski terdengar keren, bayang-bayang peretasan otak (brain-hacking) dan degradasi fungsi motorik alami menjadi kekhawatiran yang nyata bagi para ahli kesehatan digital di tahun 2026 ini.
Untuk saat ini, WEC 2026 resmi melarang segala bentuk intervensi neural. Namun satu hal yang pasti: batas antara manusia dan mesin di arena kompetitif kini sudah benar-benar kabur.
Pantau terus ITCFB.com untuk perkembangan terbaru investigasi skandal Synapse-Z dan masa depan Neural-Gaming.
Kategori artikel:
Game dan Industri Esports
Oleh: Redaksi ITCFB | Senin, 09 Maret 2026
Dunia esports hari ini tidak lagi membicarakan soal seberapa cepat jemari pemain menari di atas mechanical keyboard atau seberapa presisi flick mouse mereka. Pagi ini, 9 Maret 2026, jagat maya meledak setelah panitia World Esports Championship (WEC) 2026 mendiskualifikasi salah satu kandidat juara karena dugaan penggunaan "Neural-Link Enhancement".
Era di mana otak terhubung langsung ke server game bukan lagi fiksi ilmiah. Namun, apa yang terjadi di panggung utama semalam memicu debat etika terbesar dalam sejarah olahraga elektronik: Apakah refleks yang dihasilkan oleh chip implan masih bisa disebut sebagai talenta manusia?
Kecurigaan muncul saat "Xenon", pro-player asal Korea Selatan, mencatatkan waktu reaksi yang secara teknis mustahil bagi saraf manusia biasa. Dalam analisis pasca-pertandingan, data menunjukkan bahwa input perintah masuk ke sistem game 0,02 detik sebelum visual musuh muncul sepenuhnya di layar.
Tim investigasi teknis menemukan penggunaan perangkat non-invasive bernama Synapse-Z, sebuah headset berbasis Brain-Computer Interface (BCI) yang telah dimodifikasi. Alat ini diklaim mampu memprediksi gerakan otot berdasarkan sinyal motorik otak, lalu mengirimkan perintah ke PC bahkan sebelum tangan pemain bergerak.
CEO International Esports Federation (IESF) dalam konferensi pers daruratnya menyatakan bahwa industri sedang berada di persimpangan jalan. "Jika kita mengizinkan integrasi saraf, maka kita bukan lagi mempertandingkan skill manusia, melainkan kualitas hardware yang tertanam di kepala mereka," ujarnya dengan nada serius.
Di sisi lain, beberapa produsen hardware gaming raksasa justru mulai memasarkan "Gaming-Neural-Wear" sebagai standar baru. Mereka berargumen bahwa sama seperti sepatu lari berteknologi tinggi di atletik, BCI adalah evolusi alami dari alat input game.
Tren ini diperkirakan akan segera merembet ke pasar konsumen luas. Bayangkan bermain Open World RPG di mana Anda menggerakkan karakter hanya dengan memikirkannya, atau mengganti senjata di game FPS lewat niat di kepala. Meski terdengar keren, bayang-bayang peretasan otak (brain-hacking) dan degradasi fungsi motorik alami menjadi kekhawatiran yang nyata bagi para ahli kesehatan digital di tahun 2026 ini.
Untuk saat ini, WEC 2026 resmi melarang segala bentuk intervensi neural. Namun satu hal yang pasti: batas antara manusia dan mesin di arena kompetitif kini sudah benar-benar kabur.
Pantau terus ITCFB.com untuk perkembangan terbaru investigasi skandal Synapse-Z dan masa depan Neural-Gaming.
Halo semua! Update terbaru image Docker TTMediaBot sudah rilis dengan 3 perbaikan penting:
1.
Update dependencies untuk stabilitas.
2.
Log audio dihilangkan. Script di-patch sehingga perintah docker logs kini bersih dari spam log audio.
3.
Perbaikan bug resource. Bot tidak lagi menguras CPU/RAM server saat player sedang pause atau stop.
Cara update untuk pengguna lama:
Jalankan command:
bash tthelper.sh pull
Setelah itu, lakukan re-create container agar image baru diterapkan.
Untuk cek source code atau clone script terbaru, silakan kunjungi:
https://github.com/muhammadGagah/ttmediabot-docker-helper
Semoga bermanfaat!
1.
Update dependencies untuk stabilitas.
2.
Log audio dihilangkan. Script di-patch sehingga perintah docker logs kini bersih dari spam log audio.
3.
Perbaikan bug resource. Bot tidak lagi menguras CPU/RAM server saat player sedang pause atau stop.
Cara update untuk pengguna lama:
Jalankan command:
bash tthelper.sh pull
Setelah itu, lakukan re-create container agar image baru diterapkan.
Untuk cek source code atau clone script terbaru, silakan kunjungi:
https://github.com/muhammadGagah/ttmediabot-docker-helper
Semoga bermanfaat!
GitHub
GitHub - muhammadGagah/ttmediabot-docker-helper: A lightweight helper script to run TTMediaBot in Docker. Automatically installs…
A lightweight helper script to run TTMediaBot in Docker. Automatically installs Docker, pulls prebuilt TTMediaBot images, and manages multiple bot instances with simple commands. No manual image bu...
Hai sobatit.
Buat para pengguna NVDA, ada satu add-on yang menurutku menarik banget untuk pemula, yaitu NVDA Coach. Add-on ini dirancang sebagai media belajar interaktif langsung dari dalam NVDA, jadi proses belajarnya terasa lebih praktis karena pengguna tidak perlu bolak-balik buka video, PDF, atau pindah-pindah jendela hanya untuk memahami shortcut dan fungsi dasar. Tinggal jalankan add-on-nya, ikuti arahan yang diberikan, lalu praktik langsung langkah demi langkah.
Yang paling terasa dari NVDA Coach adalah pendekatannya yang rapi dan ramah untuk pemula. Materinya disusun bertahap, mulai dari pengenalan dasar, penggunaan keyboard, membaca dan menavigasi teks, browse mode, object navigation, sampai pengaturan NVDA. Jadi ini bukan sekadar bacaan teori, tapi benar-benar latihan yang mengajak pengguna belajar sambil praktik. Buat trainer, guru, pendamping, atau komunitas aksesibilitas, menurutku ini juga bisa jadi alat bantu belajar yang sangat berguna karena prosesnya lebih terstruktur dan mudah diikuti.
Versi terbarunya saat ini adalah v1.5, dan ada beberapa tambahan yang cukup menarik, seperti fitur personalisasi, shortcut cepat untuk akses fungsi tertentu, serta certificate of completion setelah pengguna menuntaskan materi tertentu. Add-on ini terasa dibuat dengan perhatian yang serius untuk pengalaman belajar, jadi bukan cuma fungsional, tapi juga terasa lebih hangat dan memotivasi.
Perlu dicatat, saat ini materi pelajarannya memang masih dalam bahasa Inggris dan versi terjemahannya masih dalam proses. Tapi itu bukan berarti jadi hambatan untuk belajar. Sambil menunggu terjemahan resminya selesai, sobatit tetap bisa memanfaatkan add-on penerjemah seperti Instant Translate, Advanced Translator, Yandex Translator for NVDA, atau add-on sejenis lainnya untuk membantu memahami materi saat belajar. Jadi tetap enak dipakai, apalagi kalau tujuannya memang mau mulai dulu tanpa harus menunggu semuanya serba lengkap.
Kalau mau coba, add-on ini bisa diunduh lewat NVDA Add-on Store, atau bisa juga langsung lewat link ini: https://github.com/tonygeb23/nvdaCoach-/releases/download/v1.5/nvdaCoach-1.5.nvda-addon .
Repo resminya juga bisa dilihat di sini:
https://github.com/tonygeb23/nvdaCoach-
Buat yang lagi serius belajar NVDA, add-on ini layak banget dijadikan teman latihan. Kalau semua materinya diikuti sampai tuntas, bukan hal yang aneh kalau nanti banyak perintah NVDA jadi terasa otomatis karena sudah kebiasa. Jadi tetap semangat, jangan takut pelan, karena yang penting bukan cepatnya, tapi konsistennya.
Buat para pengguna NVDA, ada satu add-on yang menurutku menarik banget untuk pemula, yaitu NVDA Coach. Add-on ini dirancang sebagai media belajar interaktif langsung dari dalam NVDA, jadi proses belajarnya terasa lebih praktis karena pengguna tidak perlu bolak-balik buka video, PDF, atau pindah-pindah jendela hanya untuk memahami shortcut dan fungsi dasar. Tinggal jalankan add-on-nya, ikuti arahan yang diberikan, lalu praktik langsung langkah demi langkah.
Yang paling terasa dari NVDA Coach adalah pendekatannya yang rapi dan ramah untuk pemula. Materinya disusun bertahap, mulai dari pengenalan dasar, penggunaan keyboard, membaca dan menavigasi teks, browse mode, object navigation, sampai pengaturan NVDA. Jadi ini bukan sekadar bacaan teori, tapi benar-benar latihan yang mengajak pengguna belajar sambil praktik. Buat trainer, guru, pendamping, atau komunitas aksesibilitas, menurutku ini juga bisa jadi alat bantu belajar yang sangat berguna karena prosesnya lebih terstruktur dan mudah diikuti.
Versi terbarunya saat ini adalah v1.5, dan ada beberapa tambahan yang cukup menarik, seperti fitur personalisasi, shortcut cepat untuk akses fungsi tertentu, serta certificate of completion setelah pengguna menuntaskan materi tertentu. Add-on ini terasa dibuat dengan perhatian yang serius untuk pengalaman belajar, jadi bukan cuma fungsional, tapi juga terasa lebih hangat dan memotivasi.
Perlu dicatat, saat ini materi pelajarannya memang masih dalam bahasa Inggris dan versi terjemahannya masih dalam proses. Tapi itu bukan berarti jadi hambatan untuk belajar. Sambil menunggu terjemahan resminya selesai, sobatit tetap bisa memanfaatkan add-on penerjemah seperti Instant Translate, Advanced Translator, Yandex Translator for NVDA, atau add-on sejenis lainnya untuk membantu memahami materi saat belajar. Jadi tetap enak dipakai, apalagi kalau tujuannya memang mau mulai dulu tanpa harus menunggu semuanya serba lengkap.
Kalau mau coba, add-on ini bisa diunduh lewat NVDA Add-on Store, atau bisa juga langsung lewat link ini: https://github.com/tonygeb23/nvdaCoach-/releases/download/v1.5/nvdaCoach-1.5.nvda-addon .
Repo resminya juga bisa dilihat di sini:
https://github.com/tonygeb23/nvdaCoach-
Buat yang lagi serius belajar NVDA, add-on ini layak banget dijadikan teman latihan. Kalau semua materinya diikuti sampai tuntas, bukan hal yang aneh kalau nanti banyak perintah NVDA jadi terasa otomatis karena sudah kebiasa. Jadi tetap semangat, jangan takut pelan, karena yang penting bukan cepatnya, tapi konsistennya.
GitHub
GitHub - tonygeb23/nvdaCoach-: Interactive NVDA screen reader training add-on — guided, hands-on lessons built into NVDA
Interactive NVDA screen reader training add-on — guided, hands-on lessons built into NVDA - tonygeb23/nvdaCoach-
# Blind Code Open Member
Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Halo, Blind Coders 😊
Pernah nggak, kamu punya ide yang menurutmu bagus, bahkan sempat mulai dikerjakan, tapi akhirnya berhenti di tengah jalan?
Atau mungkin kamu sudah bisa coding, sudah paham AI, tapi project yang kamu buat masih sebatas jadi konsumsi pribadi dan belum benar-benar berkembang jadi sesuatu yang menghasilkan?
Kalau iya, tenang, kamu nggak sendirian. Banyak orang juga ada di fase yang sama: bisa bikin, tapi belum tahu cara mengubahnya jadi sesuatu yang bernilai.
Nah, di Blind Code, kita mau jalan bareng buat itu. Bukan cuma ngobrol ide, tapi bantu kamu eksekusi. Konsepnya kita matengin, arahnya kita benahin, dan kita usahakan sampai idenya benar-benar layak dikembangkan, bahkan layak jual.
Karena faktanya, di zaman sekarang bikin aplikasi memang makin mudah. Tapi bikin sesuatu yang dipakai orang, dibutuhkan, lalu mau dibayar, itu bagian yang jauh lebih menantang.
Blind Code cocok buat kamu yang punya ide dan pengen diwujudkan, punya skill tapi pengen mulai menghasilkan, atau lagi butuh circle yang bisa bantu dorong biar nggak jalan di tempat.
Kalau kamu ngerasa ini relate, yuk gabung jadi member Blind Code.
Pendaftaran sudah dibuka 🔥
https://t.me/BlindCodeBot?start=register-member
Yuk, daftar dan mulai jalanin idemu bareng-bareng.
Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Halo, Blind Coders 😊
Pernah nggak, kamu punya ide yang menurutmu bagus, bahkan sempat mulai dikerjakan, tapi akhirnya berhenti di tengah jalan?
Atau mungkin kamu sudah bisa coding, sudah paham AI, tapi project yang kamu buat masih sebatas jadi konsumsi pribadi dan belum benar-benar berkembang jadi sesuatu yang menghasilkan?
Kalau iya, tenang, kamu nggak sendirian. Banyak orang juga ada di fase yang sama: bisa bikin, tapi belum tahu cara mengubahnya jadi sesuatu yang bernilai.
Nah, di Blind Code, kita mau jalan bareng buat itu. Bukan cuma ngobrol ide, tapi bantu kamu eksekusi. Konsepnya kita matengin, arahnya kita benahin, dan kita usahakan sampai idenya benar-benar layak dikembangkan, bahkan layak jual.
Karena faktanya, di zaman sekarang bikin aplikasi memang makin mudah. Tapi bikin sesuatu yang dipakai orang, dibutuhkan, lalu mau dibayar, itu bagian yang jauh lebih menantang.
Blind Code cocok buat kamu yang punya ide dan pengen diwujudkan, punya skill tapi pengen mulai menghasilkan, atau lagi butuh circle yang bisa bantu dorong biar nggak jalan di tempat.
Kalau kamu ngerasa ini relate, yuk gabung jadi member Blind Code.
Pendaftaran sudah dibuka 🔥
https://t.me/BlindCodeBot?start=register-member
Yuk, daftar dan mulai jalanin idemu bareng-bareng.
Telegram
💻 SIM BlindCode
Bot resmi komunitas Blindcode 🚀 Daftar event, jadi anggota, & pantau info komunitas developer Indonesia.
Lagi nyari laptop, tapi budget terbatas? Mau beli laptop baru, tapi harganya lagi gak masuk akal? Mungkin laptop bekas bisa jadi solusi.
"Ah, tapi ngeri Bang, takut dapet barang jelek. Ntar malah cepet rusak."
Tenang, saya punya solusinya. Mulai dari 2 jutaan aja, kamu udah bisa dapat laptop bekas berkualitas. Gak perlu takut dapat barang jelek, karena laptop yang saya jual sudah lulus quality control dan siap pakai.
Semua laptop bekas yang saya jual:
- Sudah lulus quality control, jadi bisa dipastikan nyaman dipakai sesuai budget yang dikeluarkan.
- Sudah terinstall Windows, Microsoft Office, dan pastinya screen reader untuk tunanetra.
- Bisa request software spesifik sesuai kebutuhan.
- Siap kirim seluruh Indonesia.
Mau konsultasi dulu? Mau menyesuaikan budget dengan kebutuhan? Bisa banget. Silakan hubungi saya (Fakhry Muhammad Rosa) di 08119960338 (WhatsApp).
So, tunggu apa lagi! Segera dapatkan laptop impianmu, sebelum diambil orang lain!
"Ah, tapi ngeri Bang, takut dapet barang jelek. Ntar malah cepet rusak."
Tenang, saya punya solusinya. Mulai dari 2 jutaan aja, kamu udah bisa dapat laptop bekas berkualitas. Gak perlu takut dapat barang jelek, karena laptop yang saya jual sudah lulus quality control dan siap pakai.
Semua laptop bekas yang saya jual:
- Sudah lulus quality control, jadi bisa dipastikan nyaman dipakai sesuai budget yang dikeluarkan.
- Sudah terinstall Windows, Microsoft Office, dan pastinya screen reader untuk tunanetra.
- Bisa request software spesifik sesuai kebutuhan.
- Siap kirim seluruh Indonesia.
Mau konsultasi dulu? Mau menyesuaikan budget dengan kebutuhan? Bisa banget. Silakan hubungi saya (Fakhry Muhammad Rosa) di 08119960338 (WhatsApp).
So, tunggu apa lagi! Segera dapatkan laptop impianmu, sebelum diambil orang lain!
sobatit, buat yang setelah update add-on WorldVoice lalu tiba-tiba Vocalizer tidak bisa dipakai, ini bukan karena rusak atau error biasa. Perubahan ini terjadi karena adanya pembaruan besar pada struktur library WorldVoice yang sekarang sudah disesuaikan untuk kebutuhan ke depan, terutama agar kompatibel dengan NVDA versi 2026.1.
Mulai versi ini, WorldVoice memang sudah tidak lagi berdiri dengan struktur lama. Ia sekarang membutuhkan library tambahan sesuai arsitektur sistem, yaitu x86 untuk 32-bit dan AMD64 untuk 64-bit. Jadi kalau library ini belum terpasang, wajar saja kalau Vocalizer tidak bisa berjalan.
Untungnya, komunitas NVDA RU sudah menyiapkan paket library yang sudah dirapikan dan siap pakai, jadi kita tidak perlu menyusunnya secara manual. File-nya bisa diunduh di sini:
https://drive.google.com/file/d/1a-hdyucuUHC_KPzD6s-gzq0wcaaUmeZv/view?usp=sharing
Setelah selesai mengunduh, jangan di-extract dulu. Cukup buka NVDA, masuk ke menu WorldVoice, lalu pilih File Import. Setelah itu arahkan ke file
Menariknya, paket core ini juga sudah membawa driver suara dari Cerence, yang juga digunakan oleh add-on Tiflotecnia Voices for NVDA. Namun untuk bisa memakai suara-suara tersebut, tetap perlu mengunduh data voice terlebih dahulu melalui add-on Tiflotecnia Voices.
Caranya cukup mudah. Install dulu add-on Tiflotecnia Voices dari Add-on Store NVDA. Kalau muncul prompt aktivasi, cukup tutup saja. Setelah itu masuk ke menu NVDA, lalu buka Tiflotecnia Voices, pilih Manage Voices, kemudian centang suara yang ingin diunduh seperti Damayanti, Amira, Maged, dan lainnya. Lanjutkan dengan memilih Install Voices dan tunggu sampai proses download selesai.
Setelah semua voice terunduh, kita perlu memindahkan datanya. Caranya tekan Windows + R, lalu buka folder:
C:\ProgramData\tiflotecniaVoices\Voices\Cerence
Di dalam folder itu, pilih semua file lalu copy atau cut. Setelah itu masuk ke folder WorldVoice dengan cara menekan Windows + R lagi dan mengetik:
%appdata%\nvda\WorldVoice-workspace\Cerence
Tinggal tempelkan semua file yang tadi sudah disalin ke sana, dan selesai. Sekarang suara Cerence sudah bisa dipakai melalui WorldVoice.
Terakhir, supaya tidak terus muncul notifikasi aktivasi dari Tiflotecnia Voices for NVDA, add-on tersebut sebaiknya di-disable atau dihapus saja. Nanti kalau dibutuhkan lagi, tinggal instal ulang dan ulangi langkahnya dari awal.
Jadi intinya, ini bukan masalah error, tapi memang perubahan sistem yang membuat setup sedikit lebih panjang. Setelah semua langkah dilakukan, WorldVoice akan kembali normal dan bahkan sudah siap untuk pembaruan NVDA ke depannya.
Selamat mencoba!
Mulai versi ini, WorldVoice memang sudah tidak lagi berdiri dengan struktur lama. Ia sekarang membutuhkan library tambahan sesuai arsitektur sistem, yaitu x86 untuk 32-bit dan AMD64 untuk 64-bit. Jadi kalau library ini belum terpasang, wajar saja kalau Vocalizer tidak bisa berjalan.
Untungnya, komunitas NVDA RU sudah menyiapkan paket library yang sudah dirapikan dan siap pakai, jadi kita tidak perlu menyusunnya secara manual. File-nya bisa diunduh di sini:
https://drive.google.com/file/d/1a-hdyucuUHC_KPzD6s-gzq0wcaaUmeZv/view?usp=sharing
Setelah selesai mengunduh, jangan di-extract dulu. Cukup buka NVDA, masuk ke menu WorldVoice, lalu pilih File Import. Setelah itu arahkan ke file
core_x86_AMD64.zip yang sudah diunduh tadi, lalu ikuti saja prosesnya sampai selesai. Biasanya setelah NVDA direstart, Vocalizer sudah bisa kembali digunakan seperti semula.Menariknya, paket core ini juga sudah membawa driver suara dari Cerence, yang juga digunakan oleh add-on Tiflotecnia Voices for NVDA. Namun untuk bisa memakai suara-suara tersebut, tetap perlu mengunduh data voice terlebih dahulu melalui add-on Tiflotecnia Voices.
Caranya cukup mudah. Install dulu add-on Tiflotecnia Voices dari Add-on Store NVDA. Kalau muncul prompt aktivasi, cukup tutup saja. Setelah itu masuk ke menu NVDA, lalu buka Tiflotecnia Voices, pilih Manage Voices, kemudian centang suara yang ingin diunduh seperti Damayanti, Amira, Maged, dan lainnya. Lanjutkan dengan memilih Install Voices dan tunggu sampai proses download selesai.
Setelah semua voice terunduh, kita perlu memindahkan datanya. Caranya tekan Windows + R, lalu buka folder:
C:\ProgramData\tiflotecniaVoices\Voices\Cerence
Di dalam folder itu, pilih semua file lalu copy atau cut. Setelah itu masuk ke folder WorldVoice dengan cara menekan Windows + R lagi dan mengetik:
%appdata%\nvda\WorldVoice-workspace\Cerence
Tinggal tempelkan semua file yang tadi sudah disalin ke sana, dan selesai. Sekarang suara Cerence sudah bisa dipakai melalui WorldVoice.
Terakhir, supaya tidak terus muncul notifikasi aktivasi dari Tiflotecnia Voices for NVDA, add-on tersebut sebaiknya di-disable atau dihapus saja. Nanti kalau dibutuhkan lagi, tinggal instal ulang dan ulangi langkahnya dari awal.
Jadi intinya, ini bukan masalah error, tapi memang perubahan sistem yang membuat setup sedikit lebih panjang. Setelah semua langkah dilakukan, WorldVoice akan kembali normal dan bahkan sudah siap untuk pembaruan NVDA ke depannya.
Selamat mencoba!
NVDA 2026.1 Portable lengkap dengan add-on yang dibutuhkan https://drive.google.com/file/d/17xWFed8yw9wAMyHsMf6u4Nw1XibMjYNE/view?usp=sharing
panduan-9router-windows-tunanetra.docx
13.6 KB
Silahkan dikembangkan lagi ya, sobatit
Hai sobatit,
Bagi yang sudah memperbarui browser Android seperti Chrome, mungkin ada masalah yang cukup mengganggu pada pembaca layar Jieshuo.
Saat ini, Jieshuo tidak selalu membacakan pembaruan dinamis dari halaman web, seperti hasil Speedtest.net atau status saat bermain QuentinC's Gameroom. Pembaruan dinamis ini biasanya berupa pesan atau status halaman yang seharusnya otomatis dibacakan oleh pembaca layar.
Salah satu cara mengatasinya adalah downgrade browser ke versi lama, tetapi cara itu cukup merepotkan dan tidak selalu disarankan. Karena itu, sambil menunggu perbaikan dari pengembang Jieshuo, kami membuat ekstensi sementara bernama BacaEventAksesibilitas agar pembaruan tersebut bisa dibacakan kembali oleh Jieshuo.
Cara Mengunduh
1. Buka Jieshuo.
2. Masuk ke menu Ekstensi>kelola>opsi lain>Download.
3. Cari BacaEventAksesibilitas.
4. Unduh atau pasang ekstensi yang muncul.
Cara Menggunakan
1. Buka browser seperti biasa.
2. Saat membuka halaman yang memiliki pembaruan dinamis, misalnya Speedtest.net, jalankan ekstensi BacaEventAksesibilitas.
3. Setelah aktif, Jieshuo seharusnya dapat kembali membacakan perubahan atau status yang muncul di halaman tersebut.
Tips Untuk pengguna QuentinC's Gameroom
Jalankan ekstensi setelah meja permainan terbuka. Setelah selesai bermain, matikan kembali ekstensi agar tidak berjalan terus di latar belakang.
Jika kesulitan mengunduh melalui menu ekstensi, gunakan link Google Drive dibawah ini untuk mengunduh ekstensi BacaEventAksesibilitas:
https://drive.google.com/file/d/1Vrd_XWKvZmy8BdCiPQddF2Pw7QbidZek/view?usp=sharing
Semoga ekstensi ini membantu teman-teman tetap nyaman menggunakan browser dan bermain seperti biasa. Terus semangat berkarya!
Bagi yang sudah memperbarui browser Android seperti Chrome, mungkin ada masalah yang cukup mengganggu pada pembaca layar Jieshuo.
Saat ini, Jieshuo tidak selalu membacakan pembaruan dinamis dari halaman web, seperti hasil Speedtest.net atau status saat bermain QuentinC's Gameroom. Pembaruan dinamis ini biasanya berupa pesan atau status halaman yang seharusnya otomatis dibacakan oleh pembaca layar.
Salah satu cara mengatasinya adalah downgrade browser ke versi lama, tetapi cara itu cukup merepotkan dan tidak selalu disarankan. Karena itu, sambil menunggu perbaikan dari pengembang Jieshuo, kami membuat ekstensi sementara bernama BacaEventAksesibilitas agar pembaruan tersebut bisa dibacakan kembali oleh Jieshuo.
Cara Mengunduh
1. Buka Jieshuo.
2. Masuk ke menu Ekstensi>kelola>opsi lain>Download.
3. Cari BacaEventAksesibilitas.
4. Unduh atau pasang ekstensi yang muncul.
Cara Menggunakan
1. Buka browser seperti biasa.
2. Saat membuka halaman yang memiliki pembaruan dinamis, misalnya Speedtest.net, jalankan ekstensi BacaEventAksesibilitas.
3. Setelah aktif, Jieshuo seharusnya dapat kembali membacakan perubahan atau status yang muncul di halaman tersebut.
Tips Untuk pengguna QuentinC's Gameroom
Jalankan ekstensi setelah meja permainan terbuka. Setelah selesai bermain, matikan kembali ekstensi agar tidak berjalan terus di latar belakang.
Jika kesulitan mengunduh melalui menu ekstensi, gunakan link Google Drive dibawah ini untuk mengunduh ekstensi BacaEventAksesibilitas:
https://drive.google.com/file/d/1Vrd_XWKvZmy8BdCiPQddF2Pw7QbidZek/view?usp=sharing
Semoga ekstensi ini membantu teman-teman tetap nyaman menggunakan browser dan bermain seperti biasa. Terus semangat berkarya!
Hai temans,
Kami ingin membagikan project terbaru nih, ini adalah script WhatsApp Web. Fungsinya secara khusus dirancang untuk memudahkan para pengguna screen reader dalam menjelajah WhatsApp Web.
Melalui script ini, navigasi menjadi jauh lebih efisien. temans dapat dengan mudah berpindah antara chat list, message list, dan unread message. Selain itu, script ini juga dapat menyembunyikan beberapa tombol yang kurang penting dan sering kali memperpanjang proses navigasi, seperti tombol end-to-end encrypted, Download, Send document, dan lain-lain. Hasilnya, antarmuka WhatsApp Web menjadi lebih bersih dan terfokus pada aksesibilitas.
Bagi yang ingin mencoba atau melihat kode sumbernya, silakan kunjungi tautan berikut:
https://github.com/muhammadGagah/whatsapp-web-plus/
Kami menyadari bahwa project ini masih memiliki banyak ruang untuk disempurnakan. Oleh karena itu, jika temans mengalami kendala saat mencoba, memiliki gagasan untuk fitur baru, atau ingin turun tangan langsung berkontribusi, silakan sampaikan langsung melalui DM. Temans juga bisa langsung membuat issue maupun Pull Request (PR) di repositori GitHub kami. Sekecil apa pun masukan dari temans akan sangat berharga bagi pengembangan script ini ke depannya.
Terima kasih.
Kami ingin membagikan project terbaru nih, ini adalah script WhatsApp Web. Fungsinya secara khusus dirancang untuk memudahkan para pengguna screen reader dalam menjelajah WhatsApp Web.
Melalui script ini, navigasi menjadi jauh lebih efisien. temans dapat dengan mudah berpindah antara chat list, message list, dan unread message. Selain itu, script ini juga dapat menyembunyikan beberapa tombol yang kurang penting dan sering kali memperpanjang proses navigasi, seperti tombol end-to-end encrypted, Download, Send document, dan lain-lain. Hasilnya, antarmuka WhatsApp Web menjadi lebih bersih dan terfokus pada aksesibilitas.
Bagi yang ingin mencoba atau melihat kode sumbernya, silakan kunjungi tautan berikut:
https://github.com/muhammadGagah/whatsapp-web-plus/
Kami menyadari bahwa project ini masih memiliki banyak ruang untuk disempurnakan. Oleh karena itu, jika temans mengalami kendala saat mencoba, memiliki gagasan untuk fitur baru, atau ingin turun tangan langsung berkontribusi, silakan sampaikan langsung melalui DM. Temans juga bisa langsung membuat issue maupun Pull Request (PR) di repositori GitHub kami. Sekecil apa pun masukan dari temans akan sangat berharga bagi pengembangan script ini ke depannya.
Terima kasih.
GitHub
GitHub - muhammadGagah/whatsapp-web-plus: Making WhatsApp Web accessible for visually impaired screen reader users
Making WhatsApp Web accessible for visually impaired screen reader users - muhammadGagah/whatsapp-web-plus
instantTranslate-4.9.1_mod.nvda-addon
380.2 KB
Hai sobatit, bagi yang mengalami instant trannslate tidak berfungsi, untuk sementara bisa gunakan versi add-on yang dimodifikasi ini ya, sambil menunggu update dari pengembangnya.
Sobatit, masih ada yang menggunakan atau kangen dengan voice Alex di macOS?
Sekarang voice Alex sudah bisa digunakan juga di NVDA pada Windows melalui add-on Panthera Speech.
Panthera Speech merupakan add-on yang berfungsi sebagai loader untuk beberapa engine speech dari Mac OS X.
Saat ini engine yang didukung adalah Tiger Speech, Leopard Speech, Snow Leopard Speech, dan Lion Speech.
Untuk voice Alex sendiri tersedia pada Leopard, Snow Leopard, dan Lion.
Yang lebih menarik lagi, data Alex dari macOS Sequoia ternyata juga bisa digunakan dengan engine Lion.
Untuk menginstall Panthera Speech, silakan kunjungi repository resminya di:
https://github.com/tgeczy/panthera-speech
Masuk ke halaman Releases, kemudian download versi terbaru.
Setelah selesai, install add-on seperti biasa dan restart NVDA jika diminta.
Perlu diketahui bahwa data engine dan voice tidak disertakan di dalam add-on.
Jadi, data speech perlu didownload secara terpisah melalui:
https://seedy.cc/speech
Kalau ingin menggunakan Alex, penulis lebih merekomendasikan Lion Speech.
Sobatit dapat men-download lion.zip dari link di atas, kemudian extract menggunakan 7-Zip atau extractor lainnya.
Setelah selesai, buka folder lion hasil extract.
Tekan Control+A untuk memilih semua isi di dalam folder tersebut, kemudian tekan Control+C untuk copy.
Selanjutnya buka NVDA Menu, masuk ke Tools, kemudian pilih Mac OS X speech data.
Pilih Lion speech -- Mac OS X 10.7.
Tekan Tab sampai menemukan Open the speech data folder, lalu tekan Enter.
Setelah folder data Lion terbuka, paste semua isi folder lion yang tadi sudah dicopy menggunakan Control+V.
Pastikan yang dicopy adalah semua isi di dalam folder lion, bukan folder lion itu sendiri.
Setelah proses copy selesai, restart NVDA.
Kemudian tekan Control+NVDA+S untuk membuka pemilihan synthesizer.
Cari Lion Speech menggunakan tombol panah, kemudian tekan Enter.
Jika pemasangannya benar, Lion Speech sudah bisa digunakan dan voice Alex bawaan Lion seharusnya sudah dapat berbicara.
Nah, kalau sobatit ingin mencoba Alex yang lebih baru dari macOS Sequoia, pastikan Lion Speech sudah terpasang dan Alex bawaan Lion sudah bekerja dengan normal terlebih dahulu.
Download sequoia-alex dari link di atas, kemudian extract.
Di dalam hasil extract akan terdapat folder bernama sequoia-speech.
Rename folder sequoia-speech menjadi Alex.SpeechVoice.
Setelah itu, copy folder Alex.SpeechVoice tersebut.
Sebelum mengganti voice Alex bawaan Lion, ubah synthesizer NVDA ke pilihan lain terlebih dahulu, misalnya Windows OneCore Voices.
Tekan Control+NVDA+S, pilih synthesizer tersebut, lalu tekan Enter.
Setelah Lion Speech tidak lagi digunakan sebagai synthesizer aktif, buka kembali folder data Lion melalui Mac OS X speech data seperti langkah di atas.
Masuk ke folder Speech, kemudian Voices.
Di dalam folder Voices tersebut akan terdapat folder Alex.SpeechVoice bawaan Lion.
Penulis sangat menyarankan untuk membuat backup terlebih dahulu.
Rename Alex.SpeechVoice bawaan Lion menjadi Alex.SpeechVoice-Lion-Backup.
Setelah backup selesai, paste folder Alex.SpeechVoice dari Sequoia ke dalam folder Voices.
Jadi, folder Alex.SpeechVoice dari Sequoia akan menggantikan posisi Alex.SpeechVoice bawaan Lion.
Setelah selesai, restart NVDA.
Kemudian tekan Control+NVDA+S.
Cari Lion Speech (Alex, MacinTalk 4.0) menggunakan tombol panah, lalu tekan Enter.
Jika semua langkah sudah dilakukan dengan benar, Lion Speech sekarang akan menggunakan data voice Alex dari macOS Sequoia.
Jadi secara sederhana, Lion Speech tetap menjadi engine yang memproses teks menjadi suara.
Sedangkan Alex dari Sequoia hanya menggantikan data voice yang digunakan oleh engine Lion.
Dengan kata lain, yang kita gunakan adalah Lion MacinTalk Engine dengan data suara Alex yang lebih baru dari macOS Sequoia.
Selamat bereksperimen dan selamat bernostalgia dengan Alex.
Have fun dan semoga setup-nya lancar!
Sekarang voice Alex sudah bisa digunakan juga di NVDA pada Windows melalui add-on Panthera Speech.
Panthera Speech merupakan add-on yang berfungsi sebagai loader untuk beberapa engine speech dari Mac OS X.
Saat ini engine yang didukung adalah Tiger Speech, Leopard Speech, Snow Leopard Speech, dan Lion Speech.
Untuk voice Alex sendiri tersedia pada Leopard, Snow Leopard, dan Lion.
Yang lebih menarik lagi, data Alex dari macOS Sequoia ternyata juga bisa digunakan dengan engine Lion.
Untuk menginstall Panthera Speech, silakan kunjungi repository resminya di:
https://github.com/tgeczy/panthera-speech
Masuk ke halaman Releases, kemudian download versi terbaru.
Setelah selesai, install add-on seperti biasa dan restart NVDA jika diminta.
Perlu diketahui bahwa data engine dan voice tidak disertakan di dalam add-on.
Jadi, data speech perlu didownload secara terpisah melalui:
https://seedy.cc/speech
Kalau ingin menggunakan Alex, penulis lebih merekomendasikan Lion Speech.
Sobatit dapat men-download lion.zip dari link di atas, kemudian extract menggunakan 7-Zip atau extractor lainnya.
Setelah selesai, buka folder lion hasil extract.
Tekan Control+A untuk memilih semua isi di dalam folder tersebut, kemudian tekan Control+C untuk copy.
Selanjutnya buka NVDA Menu, masuk ke Tools, kemudian pilih Mac OS X speech data.
Pilih Lion speech -- Mac OS X 10.7.
Tekan Tab sampai menemukan Open the speech data folder, lalu tekan Enter.
Setelah folder data Lion terbuka, paste semua isi folder lion yang tadi sudah dicopy menggunakan Control+V.
Pastikan yang dicopy adalah semua isi di dalam folder lion, bukan folder lion itu sendiri.
Setelah proses copy selesai, restart NVDA.
Kemudian tekan Control+NVDA+S untuk membuka pemilihan synthesizer.
Cari Lion Speech menggunakan tombol panah, kemudian tekan Enter.
Jika pemasangannya benar, Lion Speech sudah bisa digunakan dan voice Alex bawaan Lion seharusnya sudah dapat berbicara.
Nah, kalau sobatit ingin mencoba Alex yang lebih baru dari macOS Sequoia, pastikan Lion Speech sudah terpasang dan Alex bawaan Lion sudah bekerja dengan normal terlebih dahulu.
Download sequoia-alex dari link di atas, kemudian extract.
Di dalam hasil extract akan terdapat folder bernama sequoia-speech.
Rename folder sequoia-speech menjadi Alex.SpeechVoice.
Setelah itu, copy folder Alex.SpeechVoice tersebut.
Sebelum mengganti voice Alex bawaan Lion, ubah synthesizer NVDA ke pilihan lain terlebih dahulu, misalnya Windows OneCore Voices.
Tekan Control+NVDA+S, pilih synthesizer tersebut, lalu tekan Enter.
Setelah Lion Speech tidak lagi digunakan sebagai synthesizer aktif, buka kembali folder data Lion melalui Mac OS X speech data seperti langkah di atas.
Masuk ke folder Speech, kemudian Voices.
Di dalam folder Voices tersebut akan terdapat folder Alex.SpeechVoice bawaan Lion.
Penulis sangat menyarankan untuk membuat backup terlebih dahulu.
Rename Alex.SpeechVoice bawaan Lion menjadi Alex.SpeechVoice-Lion-Backup.
Setelah backup selesai, paste folder Alex.SpeechVoice dari Sequoia ke dalam folder Voices.
Jadi, folder Alex.SpeechVoice dari Sequoia akan menggantikan posisi Alex.SpeechVoice bawaan Lion.
Setelah selesai, restart NVDA.
Kemudian tekan Control+NVDA+S.
Cari Lion Speech (Alex, MacinTalk 4.0) menggunakan tombol panah, lalu tekan Enter.
Jika semua langkah sudah dilakukan dengan benar, Lion Speech sekarang akan menggunakan data voice Alex dari macOS Sequoia.
Jadi secara sederhana, Lion Speech tetap menjadi engine yang memproses teks menjadi suara.
Sedangkan Alex dari Sequoia hanya menggantikan data voice yang digunakan oleh engine Lion.
Dengan kata lain, yang kita gunakan adalah Lion MacinTalk Engine dengan data suara Alex yang lebih baru dari macOS Sequoia.
Selamat bereksperimen dan selamat bernostalgia dengan Alex.
Have fun dan semoga setup-nya lancar!
GitHub
GitHub - tgeczy/panthera-speech: Apple's Mac OS X speech engines, running natively on Windows: Tiger, Leopard, Snow Leopard and…
Apple's Mac OS X speech engines, running natively on Windows: Tiger, Leopard, Snow Leopard and Lion. An NVDA add-on and a SAPI 5 driver over one hand-written Mach-O loader. No engine data s...